Cinta yang (tidak) sempurna

Cinta yang (tidak) sempurna

Posted On 22 Jun. 2020 byVirinaVirina

Siapa sih yang nggak mau punya hubungan yang bahagia dan sempurna dengan pasangannya?
Yang jadi masalah dengan impian ini adalah, kenyataan bahwa tidak ada manusia yang sempurna - tidak kamu, atau pasangan kamu. Dan sudah sewajarnya jika dua orang yang memiliki cela akan membentuk hubungan yang tidak sempurna pula. Make sense?

Berdasarkan pengalaman pribadiku, ada beberapa pemikiran agar kamu bisa menghargai ketidaksempurnaan dalam hubungan kamu, dan bahkan menjadikannya sebagai dasar untuk memperkuat apa yang sebetulnya sudah kamu miliki.

Follow me on IG @MichaelRFenton
Photo by Michael Fenton / Unsplash

Coba sekarang pejamkan mata, tarik napas, dan jujur sama diri kamu sendiri. Apa bayangan kamu terhadap hubungan yang sehat?

Apakah kamu membayangkan hubungan yang mulus dengan pengertian bahwa tidak pernah menyakiti perasaan satu sama lain?
Mungkin kamu mengharapkan gairah menggelora yang kalian alami di awal hubungan akan selalu ada sepanjang waktu?
Atau hubungan yang selalu damai tanpa argumen, dan kedua pihak berkontribusi secara seimbang?

Jujur, dulu aku berpikir demikian. Setidaknya, sebagian dari itu

Nah, sayangnya, hubungan yang demikian cuma ada dalam bayangan kita sendiri. Ini bukan salah siapapun, tapi dengan imaginasi, ditambah input dari film dan cerita yang kita baca atau dengar, manusia secara wajar akan mengharapkan hubungan yang sempurna dalam kehidupan mereka.

Selama kamu masih mengandalkan impian terhadap hubungan yang sempurna berdasarkan khayalan diatas, maka kamu akan terjebak dalam imajinasi semu, dan hasilnya? kamu bisa depresi karena yang kamu bayangkan tersebut nggak akan pernah tercapai.

Coba kita lihat detail 3 bayangan kesempurnaan yang bisa merusak hubungan kamu :

1. Argumentasi Berarti Ketidakcocokan = Tidak Bahagia

Photo by Zdeněk Macháček / Unsplash

Tidak ada hubungan yang bebas dari argumen. Adalah suatu pikiran yang salah bahwa pasangan yang bahagia, cocok dan sempurna berarti akur senantiasa.

Bisa bayangin nggak rasanya hidup dengan seseorang yang selalu mengikuti apa yang kamu pikirkan dan kamu mau tanpa membantah atau memiliki pendapat sendiri? Nah terasa hidup dengan robot nggak sih? Datar dan suram kayak film Twilight Zone. Jadi kalau bicara soal argumentasi, perbedaan dasar dari pasangan yang bahagia dan tidak bahagia adalah : Pasangan bahagia tahu cara berargumentasi.

Tahukah kamu, argumentasi yang terjadi antara kamu dan pasangan, 69%-nya tidak dapat terselesaikan? Nah loh, itu kan lebih dari setengahnya!
Jadi, sebetulnya yang dihindari bukan argumentasinya, tapi menerima bahwa "oke, kita punya pandangan yang beda" terus bisa memisahkannya dari problem lain sehingga argumentasi satu dengan yang lainnya nggak saling campur aduk.

Fokus dan ikhlas adalah koentji.

2. Menghitung Nilai dan Mengumpulkan Skor

Assorted-color dice on green surface. Yatzy is a public domain dice game similar to Yacht and Yahtzee (trademarked by Hasbro in the United States). It is related to the Latin American game Generala, the English game of Poker Dice, Cheerio. Yatzy is most popular in the Scandinavian countries.
Photo by Jorge Franganillo / Unsplash

Masuk akal sih kalau kamu mau hubungan kamu seimbang dengan menganggap kedua pihak harus bisa memberikan kontribusi yang sama. Ini sebetulnya nggak salah - tergantung dengan alasan dari kontribusinya.

Pernah dengar Quid Pro Quo? Artinya bantuan atau pertolongan yang diberikan dengan syarat ada keuntungan atau pertolongan balasan.
Yakin kamu mau hubungan kamu berjalan seperti ini? Apakah kamu selalu berhitung terhadap apa yang sudah kamu lakukan, lalu berharap pasangan kamu melakukan hal yang sesuai sebagai balasannya?

Capek pasti ya bo' kalau menjalani hubungan kayak gitu. Dan, berdasarkan research, ini juga pertanda bahwa hubungan kamu dalam masalah.
Coba bayangin mana yang lebih baik, pasangan kamu berpikir
"Kemarin aku sudah bantuin cuci piring, berarti sekarang giliran dia yang bantuin ngerjain kerjaanku" ATAU
"Aku mau cuci piring untuk bantuin dia" (titik - nggak pakai embel-embel lain di belakangnya)

Di awal hubunganku yang sekarang sudah berjalan 4 tahun ini, kita memang setuju dan sering ngobrol masalah keseimbangan dalam hubungan. Dan memang itulah yang kita coba terapkan. Seimbang dalam semuanya, termasuk ke masalah keuangan. Pokoknya semua dibagi dua.
But then what happened? Lots of argument and awkward situation. Niat kita untuk menyeimbangkan hubungan akhirnya malah berantakan justru karena usaha dalam rangka mencapai hal tersebut. Tragis.
And somehow, when we let go of the score calculation and just not taking for granted of all the things that our partner has done for us, it works.

So mungkin itu yang perlu kamu tekankan dalam hubungan kamu. Daripada sibuk menghitung score, better menghargai dan jangan sia-siakan apa yang sudah pasangan kamu lakukan.

3. Gairah (Birahi) atau Cinta?

Photo by Nathan Dumlao / Unsplash

Judul point 3 ini nggak banget ya :D

Kamu ingat ketika pertama dekat dengan pasangan kamu?
Ingat rasa deg-deg plas, gugup dan senyum-senyum ketika mikirin si dia?
Menurut kamu, kegembiraan, deg-degan, dan gairah yang kamu rasakan itu, apakah semua itu tanda-tanda cinta? Lalu ketika semuanya tidak terasa lagi, apakah berarti cinta itu sudah hilang?

Jangan bingung dengan kegundahan yang kamu rasakan, karena hal itu wajar sekali. Ingat kan, kita dicekoki dengan dongeng mengenai cinta pada pandangan pertama, hingga hidup bahagia selamanya. Semua drama yang kita tonton atau dengar, akan membuat kita berpikir bahwa gairah dan semangat yang dirasakan di awal hubungan adalah cinta yang seharusnya.

Kalau kamu cuma bisa ambil satu kesimpulan dari artikel ini, saran aku ingat satu hal: Sadari bahwa perubahan dari cinta yang penuh gairah menjadi cinta yang datar, adalah wajar. Dan sebetulnya perubahan tersebut penting untuk membentuk ikatan kuat yang lebih stabil antara kamu dan pasangan.

Sekarang kamu mungkin bertanya, berapa lama kamu akan berada dalam tahap penuh gairah ini, sebelum kemudian menghilang dan terasa datar?
Rata-rata, perasaan tersebut akan berlangsung selama sekitar 18 bulan hingga 3 tahun, sebelum kemudian berubah menjadi perasaan cinta yang lebih stabil, aman, nyaman, yang untuk sebagian kamu salah mengartikannya dengan datar. Dan ketika perubahan ini terjadi, jangan panik lalu berpikir bahwa rasa cinta kamu sudah hilang. Nikmati prosesnya, dan bersiaplah untuk memiliki hubungan jangka panjang yang kokoh berdiri hingga akhir waktu nanti.

Ingat, ketahui dan terima perbedaan yang ada, jangan menghitung apa yang sudah kamu lakukan, dan nikmati perasaan tenang yang ada. Percayalah, kamu akan kaget ketika menyadari betapa indah sesungguhnya ke(tidak)sempurnaan cinta yang kamu miliki ini.
I love you more ❤️
Photo by Dhaya Eddine Bentaleb / Unsplash

More articles you might like